BAB
I
Pendahuluan
1.1.Latar belakang
Ilmu
kimia terkait erat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Mulai dari urusan
sandang dan pangan, bahan bakar, obat-obatan sampai bahan konstruksi bangunan, bahan
industri elektronik dan bahan produk melibatkan ilmu kimia. Bahan- bahan tersebut
sebagian besar tidak diperoleh langsung dari alam tetapi merupakan hasil pengolahan
atau hasil sintesis dengan menggunakan ilmu kimia. Salah satu cabang ilmu kimia
yang berperan dalam kehidupan sehari-hari adalah ilmu kimia pangan.
Adapun komponen – komponen
kimia pangan adalah, air,karbohidrat, protein, lemak, lipid, vitamin, mineral,
serat, dan bahan tambahan pangan. Ilmu ini juga meliputi bagaimana suatu produk pangan
mengalami perubahan akibat berbagai metode pemrosesan makanan dan cara untuk
meningkatkan maupun mencegah terjadinya perubahan itu.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,
didapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud ilmu kimia
pangan ?
2. Mengapa kita harus memahami dan
mempelajari ilmu kimia pangan ?
3. Apa
komponen –komponen penyusun kimia pangan ?
1.3.Tujuan
Adapun tujuan dari
makalah ilmu kimia pangan ini adalah :
1. Untuk
mengetahui apa itu ilmu kimia pangan
2. Untuk
memahami dan mengetahui kegunaan ilmu kimia pangan dan cara penerapanya
3. Untuk
mengetahui prinsip-prinsip dasar ilmu kimia pangan dan komponen penyusun kimia
pangan
1.4.Manfaat
Manfaat
yang didapat dari makalah ini adalah kita dapat memahami dan mempelajari ilmu
kimia pangan secara lebih mendalam lagi dan dapat menerapkan ilmu kimia pangan
ini baik dalam pembelajaran ataupun dalam kehidupan sehari – hari.
Bab
II
Tinjauan
Pustaka
2.1.
Pengertian ilmu kimia pangan
Kimia pangan adalah studi mengenai proses kimia dan interaksinya dengan komponen biologis dan non-biologis bahan pangan.Mirip dengan biokimia dengan komponen utamanya yaitu karbohidrat, lemak, dan protein namun juga mempelajari komponen
lain seperti air, vitamin, mineral, enzim, zat
aditif,
perasa, dan pewarna makanan. Ilmu ini juga meliputi bagaimana
suatu produk pangan mengalami perubahan akibat berbagai metode pemrosesan
makanan dan cara untuk meningkatkan maupun mencegah terjadinya perubahan itu.
2.2.
Paradigma baru pada kimia pangan
Saat ini teknologi
pangan telah berkembang begitu pesat dalam mengaplikasikan ilmu kimia khususnya
ilmu kimia pangan dengan Imu-ilmu pendukung lainnya dalam mempertahankan
karakteristik pangan agar dapat disimpan selama mungkin. Demikian juga
teknologi pangan telah berkembang untuk membuat berbagai jenis pangan yang baru
yang berbeda dari pangan alami.
Dalam hal yang
terakhir ini, telah terjadi perkembangan jenis senyawa kimia yang dapat
diaplikasikan ke dalam bahan pangan. Contohnya, bahan tambahan pangan adalah
senyawa kimia yang terus digali, dikaji dan dikembangkan sesuai dengan
karakteristik peruntukkannya. Perkembangannya dilakukan melalui cara-cara kimia
murni seperti sintesa kimia atau melalui pendekatan bioteknologi. Pendekatan
yang terakhir ini telah mendobrak cara lama sintesa kimia menjadi suatu
teknologi yang sangat efektif dan efisien dalam menghasilkan senyawa kimia yang
dibutuhkan. Berbagai jenis bahan tambahan pangan telah diproduksi melalui
pendekatan bioteknologi, seperti pewarna, perisa, pengental, pembentuk gel,dan
sbg.
2.3. Komponen kimia pangan dan
penggolonganya
a. Air
Komponen
utama dari bahan pangan adalah air. 50% massa produk daging adalah
air, dan 95% dari massa sayuran segar (misalnya selada, kol, tomat) adalah air. Air juga tempat utama
perkembangan bakteri pada bahan pangan dan penyebab
utama berbagai kerusakan bahan pangan. Aktivitas air (water activity) adalah
salah satu cara dalam menentukan usia simpan suatu produk pangan. Salah satu
kunci pengawetan bahan pangan adalah dengan
mengurangi kadar air atau mengubah karakteristik dari
air tersebut, misalnya dengan dehidrasi, pembekuan, dan pendinginan.
b. Karbohidrat
Terdiri
dari 80% total konsumsi manusia, karbohidrat yang paling umum dikenal manusia
adalah pati.Jenis karbohidrat yang paling
sederhana adalah dari jenis monosakarida,yaitu glukosa, fruktosa, galaktosa, manosa,sorbosa,dansebagainya. Rangkaian
monosakarida akan membentuk sakarida lain yang lebih besar,yaitu polisakarida (rantai panjang), oligosakarida (rantai pendek), dan disakarida (dua molekul monosakarida).
c. Lipid
Lipid jika didefinisikan cakupannya cukup
luas, yaitu segala komponen biologis nonpolar yang tidak larut, dan itu
termasuk lilin , asam lemak, fosfolipid, terpentin , dan
sebagainya.
d.
Lemak
Lemak merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai
panjang. Lemak umumnya dibedakan menjadi lemak hewani dan lemak nabati. Lemak hewani
mengandung asam lemak jenuh lebih banyak, dan pada temperatur kamar berbentuk
padat. Lemak nabati memiliki asam lemak tak jenuh lebih banyak, dan dalam
temperatur kamar berbentuk cair.
e. Protein
Protein merupakan makromolekul yang
sangat kompleks dan menyusun sekitar 50% dari berat kering sel hidup. Protein
berperan penting dalam struktur dan fungsi sel. Protein tersusun atas karbon, nitrogen, hidrogen,oksigen, dan beberapa jenis memiliki sulfur dan mineral seperti besi, tembaga, fosfor, dan seng.
f.Vitamin
Dalam keberadaannya di sumber bahan
pangan maupun setelah masuk ke dalam tubuh dan masuk ke dalam metabolisme
tubuh, vitamin-vitamin tersebut membutuhkan air. Vitamin yang larut dalam air,
jika kelebihan akan dibuang melalui urin. Vitamin A, D, E, dan K larut di
dalam lemak, dan tidak akan dikeluarkan dari dalam tubuh jika kelebihan,
melainkan akan disimpan.
g. Mineral
Mineral dalam
bahan pangan amat bervariasi dan dibutuhkan oleh tubuh karena memberikan
manfaat tertentu. Namun tidak semua mineral di alam dibutuhkan oleh tubuh,
sebagian justru berbahaya walau dalam jumlah yang sedikit (misalnya arsen).
h.Serat
Serat yaitu
bagian dari tanaman, umumnya merupakan rantai glukosa seperti selulosa, yang
tidak dicerna oleh tubuh. Serat bermanfaat dalam proses pencernaan, membantu
pergerakan bahan makanan dan tinja di dalam
usus sehingga tidak terlalu lama berada di dalam tubuh.
g.
Bahan tambahan pangan ( Food additive )
Bahan tambahan makanan yaitu bahan campuran yang secara
alamiah tidak terdapat dalam makanan, tetapi ditambahkan secara sengaja dalam
proses pembuatan maupun pengemasannya. Tujuannya yaitu: Meningkatkan kualitas
warna, rasa, dan stabilitas makanan, Meningkatkan kualitas tekstur , Menahan kelembaban
, Sebagai pengental, pengikat, pencegah kelengketan, dan sejenisnya, Memperkaya
kandungan vitamin dan mineral . Bahan tambahan
pangan meliputi , zat pewarna ,penyedap rasa dan aroma ,antioksidan,
2.3.
Prinsip dasar dalam analisis kimia pangan
Prinsip dasar dalam analisis kimia pangan adalah Dalam melakukan analisis kimia, perlu
dilakukan tahapan analisis untuk memperoleh hasil analisis kimia yang tepat dan
teliti.
- Perencanaan analisis.
Sebelum melakukan analisis kuantitatif, maka perlu memperhati-kan dua hal berikut ini ;
- Informasi analisis apa yang
diperlukan :
Dalam hal ini perlu diperhatikan
tingkat ketepatan dan ketelitian hasil analisis yang diperlukan dan tipe sampel
yang akan dianalisis.
- Metode analisis yang harus
digunakan :
Untuk mendapatkan hasil analisis
dengan tingkat ketepatan dan ketelitian tertentu memerlukan metode analisis
tertentu. Selain itu untuk memilih metode analisis, diperlukan bahan kimia dan
peralatan tertentu.
- Pengambilan sampel (sampling).
Masalah utama dalam sampling adalah
pengambilan sampel secara representatif. Hal ini sering tidak tercapai karena
keadaan sampel secara keseluruhan tidak homogen.
- Persiapan sampel untuk analisis. Tahap ini meliputi pengeringan sampel, pengukuran sampel dan pelarutan sampel.
2.4.
Pengertian kimia air dalam bahan pangan
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia
H2O:
satu molekul
air tersusun atas dua atom
hidrogen
yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen.
Air bersifat tidak berwarna,
tidak berasa
dan tidak berbau
pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur
273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut
yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia
lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul
organik.
Alasan mengapa hidrogen berikatan dengan
oksigen membentuk fase berkeadaan cair, adalah karena oksigen lebih bersifat
elektronegatif ketimbang elemen-elemen lain tersebut (kecuali flor). Tarikan
atom oksigen pada elektron-elektron ikatan jauh lebih kuat dari pada yang
dilakukan oleh atom hidrogen, meninggalkan jumlah muatan positif pada kedua
atom hidrogen, dan jumlah muatan negatif pada atom oksigen. Adanya muatan pada
tiap-tiap atom tersebut membuat molekul air memiliki sejumlah momen dipol. Gaya
tarik-menarik listrik antar molekul-molekul air akibat adanya dipol ini membuat
masing-masing molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk dipisahkan dan
yang pada akhirnya menaikkan titik didih air. Gaya tarik-menarik ini disebut
sebagai ikatan hidrogen.
Air sering disebut sebagai pelarut
universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam
kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk
ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H+)
yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-).
2.5. Air dalam bahan pangan
Air dalam bahan pangan berperan sebagai pelarut dari
beberapa komponen disamping ikut sebagai bahan pereaksi. Dalam suatu bahan
pangan, air dikategorikan dalam 2 tipe yaitu air bebas dan air terikat. Air
bebas menunjukan sifat-sifat air dengan keaktifan penuh, Air bebas dapat dengan
mudah hilang apabila terjadi penguapan dan pengeringan,
Air terikat menunjukan air yang
terikat erat dengan komponen bahan pangan lainnya. sedangkan air terikat sulit
dibebaskan dengan cara tersebut. Sebenarnya air dapat terikat secara fisik,
yaitu ikatan menurut sistem kapiler dan air terikat secara kimia, antara lain
air kristal dan air yang terikat dalam sistem disperse.Air terikat (bound
water) merupakan interaksi air dengan solid atau bahan pangan.
Ada beberapa definisi air terikat
adalah sejumlah air yang berinteraksi secara kuat dengan solute yang bersifat
hidrofilik. Air terikat adalah air yang tidak dapat dibekukan lagi pada
suhu lebih kecil atau sama dengan -40C, merupakan subtansi nonaqueousdan
mempunyai sifat yang berbeda dengan air kamba. Air dalam bahan pangan terikat
secara kuat pada sisi-sisi kimia komponen bahan pangan misalnya grup hidroksil
dari polisakarida, grup karbonil dan amino dari protein dan sisi polar lain
yang dapat memegang air dengan ikatan hydrogen.
2.6. Kadar air dan aktivitas air
a. Kadar
air
Kadar air adalah perbedaan antara berat
bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila diletakkan
dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan kelembaban
udara di sekitarnya. Kadar air bahan ini disebut dengan kadar air seimbang.
Setiap kelembaban relatif tertentu dapat menghasilkan kadar air seimbang
tertentu pula. Dengan demikian dapat dibuat hubungan antara kadar air seimbang
dengan kelembaban relatif.
Aktivitas air dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Aw
= ERH/100
Aw
= aktivitas air
ERH
= kelembaban relatif seimbang
Bila diketahui kurva
hubungan antara kadar air seimbang dengan kelembaban relatif pada hakikatnya
dapat menggambarkan pula hubungan antara kadar air dan aktivitas air. Kurva ini
sering disebut kurva Isoterm Sorpsi Lembab (ISL). Setiap bahan mempunyai ISL
yang berbeda dengan bahan lainnya. Pada kurva tersebut dapat diketahui bahwa
kadar air yang sama belum tentu memberikan Aw yang sama tergantung macam
bahannya. Pada kadar air yang tinggi belum tentu memberikan Aw yang tinggi bila
bahannya berbeda. Hal ini dikarenakan mungkin bahan yang satu disusun oleh
bahan yang dapat mebgikat air sehingga air bebas relatif menjadi lebih kecil
dan akibatnya bahan jenis ini mempunyai Aw yang rendah.
b. Aktivitas Air
Tingkat mobilitas dan peranan air dalam bahan pangan bagi
proses kehidupan biasanya dinyatakan dengan aktivitas air atau water
activity (Aw) yaitu jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh
mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
Aktivitas air didefinisikan sebagai perbandingan antara
tekanan uap air dari larutan dengan tekanan uap air murni pada suhu yang
Dimana
:
P
: tekanan uap air dari larutan pada suhun T
Po
: tekanan uap air murni pada suhu T
Aktivitas air dapat juga dinyatakan sebagai jumlah molekul
dalam larutan, menurut hukum Raoult, aw berbanding lurus dengan
jumlah molekul di dalam pelarut (solvent) dan berbanding terbalik dengan
jumlah molekul di dalam larutan (solusi)
Dimana:
n1
= jumlah molekul zat yang dilarutkan
n2
= jumlah molekul air
Parameter ini juga dapat didefinisikan sebagai kelembaban
relatif berimbang (equilibrium relative humidity = ERH) dibagi 100.
2.7.Prinsip dan metode analisis
kadar air
Metode penentuan kadar air bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu metode thermogravimetri, distilasi, khemis, dan fisis. Prinsip analisa
penetapan kadar air secara thermogravimetri adalah pemanasan bahan pada titik
didh air sehingga air akan menguap, lalu ditimbang berat sebelum dan sesudah
pemanasan. Selisih berat bahan sebelum dan sesudah dipanaskan adalah kadar air
bahan. Sedangkan prinsip analisa penetapan kadar air dengan metode
thermovolumetri adalah menguapkan air dengan cairan kimia yang mempunyai titik
didih lebih tinggi daripada air dan tidak dapat bercampur dengan air serta
mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air sehingga air akan terpisah dan
dapat diukur kadarnya.
2.8. Sumber-sumber kesalaan dalam
analisis kadar air
Analisis kadar
air menggunakan pengering oven merupakann cara analisis yang paling banyak
digunakan karena relatif sederhana. namun demikian, sering ada kesalahan yang
diabaikan penelitian yaitu:
- Jika suhu oven yang digunakan lebih kecil dari yang seharusnya (105 C) dapat mengakibatkan tidak semua air dalam contoh teruapkan sehingga dapat menyebabkan kadar air yang diperoleh lebih kecil dari yang seharusnya.
- Jika suhu oven lebih besar dari yang seharusnya dapat menyebakan kadar air lebih tinggi karena tidak hanya air yang teruapkan akan tetapi minyak atsiri yang mudah menguappun ikut teruapkan
- Neraca analtik tidak terkalibrasi juga suhu oven
BAB III
HASIL DAN
PEMBAHASAN
1.
Kimia pangan adalah studi mengenai proses kimia
dan interaksinya dengan komponen biologis dan non-biologis bahan pangan. Substansi biologis misalnya produk daging, sayuran, produk susu, dan
sebagainya.
2.
Tujuan dari kimia pangan adalah
untuk mengatasi berbagai masalah pangan yang disebabkan oleh berbagai reaksi kimia dan mengetahui cara pemanfaatan teknologi pangan di
kehidupan sehari –hari.
3.
Komponen- komponen
penyusun kimia pangan adalah air, karbohidrat, protein, lipid, lemak, mineral,
vitamin, serat, dan bahan tambahan pangan.
Air adalah Komponen utama dari bahan
pangan . karena 50% massa produk daging adalah air, dan 95% dari massa sayuran
segar (misalnya selada kol, tomat) adalah air.
BAB IV
KESIMPULAN DAN
SARAN
4.1. KESIMPULAN
1.
Kimia pangan adalah studi mengenai proses kimia
dan interaksinya dengan komponen biologis dan non-biologis bahan pangan. Substansi biologis misalnya produk daging, sayuran, produk susu, dan
sebagainya.
2.
Paradigma
baru pada kimia pangan saat ini adalah mengembangkan teknologi pangan dengan
cara mengaplikasikan ilmu kimia khususnya
ilmu kimia pangan dengan Imu-ilmu pendukung lainnya
3.
Komponen- komponen
penyusun kimia pangan adalah air, karbohidrat, protein, lipid, lemak, mineral,
vitamin, serat, dan bahan tambahan pangan. Komponen
yang utama dari kimia pangan adalah air, karena air banyak terkandung di dalam
bahan pangan seperti daging dan sayuran.
4.
Air
dalam bahan pangan terbagi menjadi air bebas dan air terikat.Analisis kadar air
dapat dilakukan dengan metode thermogravimetri, distilasi, khemis, dan
fisis.
4.2
. Saran
1.
Kita harus mempelajari serta memahami ilmu kimia pangan agar dapat menerapkanya
dalam kehidupan sehari- hari.
2.
Setelah mempelajari ilmu kimia pangan kita diharapkan dapat mengembangkan
teknologi pangan dengan cara mengaplikasikan ilmu kimia khususnya ilmu kimia
pangan
Daftar
Pustaka
Winarno, F.G, 2008. Kimia Pangan dan Gizi, Bogor: M-Brio
press.
H.-D.
Belitz, Werner Grosch, Peter Schieberle. Food Chemistry. Springer, 2009
John M. DeMan. Principles of Food Chemistry. Springer, 1999
John M. DeMan. Principles of Food Chemistry. Springer, 1999
Winarno,
F.G, 2007. Teknobiologi Pangan. Bogor, M-Brio press.
Disusun oleh :
- Caesareva Diana Putri
- Dwi Frah Mitha
- Essence Indrayani
- R.A Fika Lutfiyanika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar