Minggu, 24 Juni 2012

Kesalahan dalam Pola Makan Masyarakat Indonesia


Cuap..cuap.. kebelet pengen ngoceh ni..

Sekarang gue mau ngoceh tentang, pola makan masyarakat Indonesia. Yah, seperti yang kita ketahui, orang Indonesia itu rata2 ehem,  pendek kurang tinggi ya, dan banyak juga yang punya body kurus, kurus banget dan kalo gemuk eh malah gendut banget. Gue sebagai salah satu masyarakat Indonesia ngerasa iri sama orang2 yang ada di luar Indonesia. Kita berkaca ke Negara2 Eropa ataupun Asia Timur hmm pokoknya luar Indonesia ya, disana orangnya tinggi2 bener, badan gede, pokoknya good looking deh, jarang yang tingginya Cuma 1,5 meter atau mungkin lebih pendek lagi dari itu. Mungkin kalo pas kita ke Eropa sana badan yang biasanya dibilang normal disini malah dibilang kerdil sama

orang sana, heeeh malu gue.

Sekarang kita liat remaja Indonesia, menurut dosen gue, remaja Indonesia itu jadi lebih pendek karena pola makan mereka yang lebih menyukai junk food dan fast food. Asal lo tau ya, makanan sekelas K*C dan sebagainya itu salah satu makanan junk food. Kenapa? Ya lo pikir aja ayam terus Cuma digoreng dan dikasih minum soda, itu bisa buat kandungan gizi yang ada di dalam makanan jadi hilang, emm satu lagi kalo misal kita makan besar atau yang pake lauk pauk lah ya, usahain ilangin kebiasaan makan dengan disertain minum teh, kenapa juga? Karena zat2 gizi dari makanan lo tadi uda terdenaturasi sama kafein yang terkandung di teh tadi, alhasil makanan yang lo makan Cuma jadi sampah dan otomatis zat gizi yang harusnya diserap sama tubuh lo juga bakal terbuang percuma. Jadi lebih baik lo minum air putih aja deh kalo pas makan.

Dan bandingkan dengan anak2 di Negara luar sana, mereka lebih banyak mengkonsumsi makanan tinggi protein hewani dan biasanya mereka juga makan dalam porsi 2x lipat bahkan mungkin 3x lipat dari porsi kita. Kalo makan daging untuk standar Internasional itu porsiny 250 gr, sedangkan kita untuk daging Cuma 50 gr. Bayangin deh, jauh banget perbandingannya dengan orang kita. Lagi pula kalo mereka lebih suka makanan yang Cuma 1x pengolahan, ga banyak bumbu. Mangkanya makanan kontinental itu lebih identik dengan rasa asin, atau malah hambar. Beda sama kita yang kalo masak gila sama bumbu, semua bumbu atau rempah tersedia, jadi lebih banyakan bumbu yang masuk ke tubuh dibanding zat gizi dari makanan. Akibatnya, kurang lagi deh gizi buat tubuh kita, pendek lagi ya pendek lagi. 

Tapi, kekurangan zat gizi itu ga cuma buat badan kita beda jauh ketinggalan sama orang luar, tapi juga bikin kualitas otak kita jadi dibawah mereka. Kenapa? Oke, sekarang lo ingat kita pernah dijajah sama Jepang. Kita lama banget dijajah sama orang Jepang, dan tau juga kalo Jepang itu punya banyak laut sama seperti kita, tapi kenapa kualitas kita jadi beda jauh sama orang2 disana. Pertama, karena pola makan dan pikir mereka berbeda sama orang Indonesia, kalau disini untuk makan ikan kita udah jarang banget makan ikan yang masih benar2 segar, dan ikan yang segar dan berkualitas bagus pun, malah di ekspor semua ke luar negeri, alhasil kita cuma dapat ikan sisanya. Bandingkan dengan orang Jepang yang selalu makan  ikan segar, apalagi hampir semua makanannya bernilai protein tinggi, yang bisa membantu kecerdasan otak kita. Kedua, makanan mereka lebih banyak diolah dengan satu kali pengolahan saja. Orang jepang suka makanan yang direbus, dan tidak memiliki banyak bumbu. Sedangkan di Indonesia, selain bumbu pada makanan yang berlebihan, proses memasaknya pun lebih dari satu kali *bayangin proses pembuatan rendang*

Dan, tinggi badan orang Indonesia dengan orang Jepang itu tidak jauh beda dengan orang Indonesia dulu. Tapi sekarang, banyak orang Jepang yang postur tubuhya lebih tinggi dibandingkan kita. Ya! Faktor genetik tentang tinggi badan itu bisa diubah dengan pola makan kita. Kalau dari kecil kita sudah diasup dengan makanan yang bergizi tinggi, maka pertumbuhan tubuh kita juga akan berlangsung dengan normal. Dengan banyak mengkonsusi kalsium, fosfor dan zink, kita bisa tumbuh jadi lebih sehat dalam hal bentuk badan.

Kebiasaan orang Indonesia yang sering salah dan bisa berpengaruh bagi pertumbuhan anak adalah.
1.       Pemberian MP ASI terlalu cepat, padahal kita tau kalau anak itu harus diberikan ASI sampai usia 6 bulan tanpa pendamping apapun, jadi si anak Cuma minum asi sampai usia 6 bulan. Biasa disebut ASI eksklusif. Kenapa si anak harus minum ASI sampai usia 6 bulan, kenapa tidak ada MP ASInya? Ya, karena alat pencernaan si anak belum mampu untuk melakukan proses pencernaan terhadap makanan lain kecuali asi, yang kalau dipaksakan dengan mengkonsumsi makanan yang berat akan mengakibatkan sakit pada si anak. Bisa, si anak jadi terserang diare, dan lain sebagainya.
2.       Waktu melahirkan, air susu yang pertama kali keluar pada saat melahirkan atau kolostrum malah dibuang oleh si Ibu. Kadang, mereka berpikir kolostrum itu adalah susu basi. Karena warnanya yang sedikit kekuningan *agak mirip bentuk nanah* , padahal nilai gizi pada kolostrum itu tinggi banget dan tentunya kaya protein.
3.       Terlalu percaya dengan tabu makanan. Misal, pada saat hamil ga boleh makan nanas, pisang dan mentimun. Bahkan mereka percaya bahwa nanas bisa menyebabkan keguguran (Dyahumi, 2010). Faktanya, konsumsi pisang, nanas, dan mentimun justru disarankan karena kaya akan vitamin C dan serat yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan melancarkan proses pembuangan sisa-sisa pencernaan. 
4.       Anggapan kalau mengonsumsi ikan laut, ikan asin, udang dan kepiting menyebabkan ASI menjadi  asin. 
Di masyarakat Betawi, berlaku pantangan makan ikan laut, ikan asin, udang dankepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin (Anonim,2009). Padahal, protein yang terkandung dalam ikan laut, ikan asin, udang dan kepiting dapat meningkatkan kecerdasan otak si anak.
 
Jadi sedikit banyaknya ya itu, salah satu penyebab masyarakat Indonesia jauh ketinggalan sama orang luar dari segi makanannya. Gue harap setelah ini orang2 Indonesia bisa memperbaiki pola makan mereka, yang juga bisa berpengaruh buat keadaan Negara kita sendiri ^ ^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar