Jumat, 29 Maret 2013

Makalah Patologi Tetanus


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Tetanus adalah penyakit yang mengenai sistem saraf yang disebabkan oleh tetanospasmin yaitu neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Penyakit ini ditandai oleh adanya trismus, disfagia, dan rigiditas otot lokal yang dekat dengan tempat luka, sering progresif menjadi spasme otot umum yang berat serta diperberat dengan kegagalan respirasi dan ketidakstabilan kardiovaskular. Gejala klinis tetanus hampir selalu berhubungan dengan kerja toksin pada susunan saraf pusat dan sistem saraf autonom dan tidak pada sistem saraf perifer atau otot.
Kitasato merupakan orang pertama yang berhasil mengisolasi organisme dari korban manusia yang terkena tetanus dan juga melaporkan bahwa toksinnya dapat dinetralisasi dengan antibodi yang spesifik. Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang berarti menegang. Penyakit ini adalah penyakit infeksi di saat spasme otot tonik dan hiperrefleksia menyebabkan trismus (lockjaw), spasme otot umum, melengkungnya punggung (opistotonus), spasme glotal, kejang, dan paralisis pernapasan.

1.2.RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, didapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apakah penyebab atau etiologi dari penyakit tetanus?
2.      Berapa lama masa inkubasi bagi penyakit tetanus
3.      Bagaimana proses patogenesis bagi penyakit tetanus?
4.      Apa saja tanda dan gejala untuk penyakit tetanus?
5.      Apakah dari penyakit tetanus dapat menimbulkan komplikasi?
6.      Bagaimana prognosis dari penyakit tetanus?
7.      Apakah penyakit terminal juga terjadi pada penyakit tetanus?
8.      Apakah seseorang bisa mengalami infeksinosokomial setelah menderita penyakit tetanus?
9.      Apakah seseorang bisa mengalami infeksi yang disebabkan oleh penyakit tetanus?
10.  Bagaimana prosedur diagnosik untuk penyakit tetanus
1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ilmu kimia pangan ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apa itu tetanus
2.      Untuk mengetahui apa saja penyebab, lama masa inkubasi, patogenesis, tanda dan gejala dari penyakit tetanus
3.      Untuk mengetahui komplikasi apa yang bisa terjadi karena penyakit tetanus
4.      Untuk mengetahui prognosis, penyakit terminal, infeksinosokomial, dan infeksi yang bisa terjadi karena penyakit tetanus
5.      Untuk mengetahui bagaimana prosedur diagnosik terhadap penyakit tetanus
6.      Untuk mengetahui bagaimana interaksi penyakit tetanus terhadap lingkungan dan obat
7.      Untuk mengetahui bagaimana proses penatalaksanaan untuk penyakit tetanus
1.4. Manfaat
Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah kita dapat memahami dan mempelajari mengenai penyakit tetanus secara lebih mendalam lagi dari segi patologinya dan dapat menerapkan ilmu patologi ini baik dalam pembelajaran  ataupun  dalam kehidupan sehari – hari.






BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi tetanus   
            Tetanus adalah penyakit yang mengenai sistem saraf yang disebabkan oleh tetanospasmin yaitu neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Penyakit ini ditandai oleh adanya trismus, disfagia, dan rigiditas otot lokal yang dekat dengan tempat luka, sering progresif menjadi spasme otot umum yang berat serta diperberat dengan kegagalan respirasi dan ketidakstabilan kardiovaskular. Gejala klinis tetanus hampir selalu berhubungan dengan kerja toksin pada susunan saraf pusat dan sistem saraf autonom dan tidak pada sistem saraf perifer atau otot.
Clostridium tetani merupakan organisme obligat anaerob, batang gram positif, bergerak, ukurannya kurang lebih 0,4 x 6 μm. Mikroorganisme ini menghasilkan spora pada salah satu ujungnya sehingga membentuk gambaran tongkat penabuh drum atau raket tenis. Spora Clostridium tetani sangat tahan terhadap desinfektan kimia, pemanasan dan pengeringan. Kuman ini terdapat dimana-mana, dalam tanah, debu jalan dan pada kotoran hewan terutama kuda.

2.2. Etiologi
            Clostridium tetani merupakan sebuah kuman gram positif, anaerob obligat besar dan mampu membentuk spora. Bentuk vegetasi kuman ini mampu dimusnahkan dengan panas dan desinfektan, tidak dapat hidup dengan adanya oksigen. Kuman ini mampu bertahan pada suhu 121 derajat celcius selama 10-15 menit serta resisten terhadap alkohol atau zat kimia lain. Spora ini terdapat di tanah, kotoran hewan, dan manusia yang menghasilkan 2 jenis eksotosin yaitu tetanolisin dan tetanospamin. Tetanolisin merusak membran sel dan jaringan sehingga membuat tempat yang sesuai untuk pertumbuhan dan proliferansi. Tetanospamin merupakan jenis toksin yang paling paten.
2.2. Masa Inkubasi
            Masa inkubasi berpariasi antara 2-60 hari. Masa inkubasi yang panjang biasanya mempunyai prognosis baik di bandingkan masa inkubasi yang pendek.
2.3. Patogenesis
Spora kuman tetanus yang ada di lingkungan dapat berubah menjadi bentuk vegetatif bila ada dalam lingkungan anaerob, dengan tekanan oksigen jaringan yang rendah. Kuman ini dapat membentuk metalo-exotosin tetanus, yang terpenting untuk manusia adalah tetanospasmin. Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin padasinaps ganglion spinal dan neuromuscular junction serta syaraf otonom. Toksin dari tempat luka menyebar ke motor endplate dan setelah masuk lewat ganglioside dijalarkan secara intraaxonal kedalam sel saraf tepi, kemudian ke kornu anterior sumsum tulang belakang, akhirnya menyebar ke SSP. Manifestasi klinis terutamadisebabkan oleh pengaruh eksotoksin terhadap susunan saraf tepi dan pusat. Pengaruh tersebut berupa gangguan terhadap inhibisi presinaptik sehingga mencegah keluarnya neurotransmiter inhibisi yaitu GABA dan glisin, sehingga terjadi eksitasi terus-menerus dan spasme. Kekakuan dimulai pada tempat masuk kuman atau pada otot masseter (trismus), pada saat toxin masuk ke sum sum belakang terjadi kekakuan yang makin berat, pada extremitas, otot-otot bergaris pada dada, perut dan mulia timbul kejang. Bilamana toksin mencapai korteks cerebri, penderita akan mulai mengalami kejang umum yang spontan. Tetanospasmin pada sistem saraf otonom juga berpengaruh, sehingga terjadi gangguan pada pernafasan, metabolisme, hemodinamika, hormonal, saluran cerna, saluran kemih, dan neuromuskular. Spame larynx, hipertensi, gangguan irama jantung, hiperpirexi, hyperhydrosis merupakan penyulit akibat gangguan saraf otonom, yang dulu jarang dilaporkan karena penderita sudah meninggal sebelum gejala timbul. Dengan penggunaan diazepam dosis tinggi dan pernafasan mekanik, kejang dapat diatasi namun gangguan saraf otonom harus dikenali dan dikelola dengan teliti.
2.4. Gejala dan Tanda
·         Gejala
Gejala penyakit tetanus bisa dibagi dalam tiga tahap, yaitu:
-Tahap awal
Rasa nyeri punggung dan perasaan tidak nyaman di seluruh tubuh merupakan gejala awal penyakit ini. Satu hari kemudian baru terjadi kekakuan otot. Beberapa penderita juga mengalami kesulitan menelan. Gangguan terus dialami penderita selama infeksi tetanus masih berlangsung.

-Tahap kedua
Gejala awal berlanjut dengan kejang yang disertai nyeri otot pengunyah (Trismus). Gejala tahap kedua ini disertai sedikit rasa kaku di rahang, yang meningkat sampai gigi mengatup dengan ketat, dan mulut tidak bisa dibuka sama sekali. Kekakuan ini bisa menjalar ke otot-otot wajah, sehingga wajah penderita akan terlihat menyeringai (Risus Sardonisus), karena tarikan dari otot-otot di sudut mulut.
Selain itu, otot-otot perut pun menjadi kaku tanpa disertai rasa nyeri. Kekakuan tersebut akan semakin meningkat hingga kepala penderita akan tertarik ke belakang. (Ophistotonus). Keadaan ini dapat terjadi 48 jam setelah mengalami luka. Pada tahap ini, gejala lain yang sering timbul yaitu penderita menjadi lambat dan sulit bergerak, termasuk bernafas dan menelan makanan. Penderita mengalami tekanan di daerah dada, suara berubah karena berbicara melalui mulut atau gigi yang terkatub erat, dan gerakan dari langit-langit mulut menjadi terbatas.


-Tahap ketiga
Daya rangsang dari sel-sel saraf otot semakin meningkat, maka terjadilah kejang refleks. Biasanya hal ini terjadi beberapa jam setelah adanya kekakuan otot. Kejang otot ini bisa terjadi  spontan tanpa rangsangan dari luar, bisa pula karena adanya rangsangan dari luar. Misalnya cahaya, sentuhan, bunyi-bunyian dan sebagainya. Pada awalnya, kejang ini hanya berlangsung singkat, tapi semakin lama akan berlangsung lebih lama dan dengan frekuensi yang lebih sering. Selain dapat menyebabkan radang otot jantung (mycarditis), tetanus dapat menyebabkan sulit buang air kecil dan sembelit. Pelukaan lidah, bahkan patah tulang belakang dapat terjadi akibat adanya kejang otot hebat. Pernafasan pun juga dapat terhenti karena kejang otot ini, sehingga beresiko kematian. Hal ini disebabkan karena sumbatan saluran nafas, akibat kolapsnya saluran nafas, sehingga refleks batuk tidak memadai, dan penderita tidak dapat menelan.
2.5. Komplikasi
Komplikasi tetanus yang sering terjadi adalah pneumonia, bronkopneumonia dan sepsis. Komplikasi terjadi karena adanya gangguan pada sistem respirasi antara lain spasme laring atau faring yang berbahaya karena dapat menyebabkan hipoksia dan kerusakan otak. Spasme saluran nafas atas dapat menyebabkan aspirasi pneumonia atau atelektasis. Komplikasi pada sistem kardiovaskuler berupa takikardi, bradikardia, aritmia, gagal jantung, hipertensi, hipotensi, dan syok. Kejang dapat menyebabkan fraktur vertebra atau kifosis. Komplikasi lain yang dapat terjadi berupa tromboemboli, pendarahan saluran cerna, infeksi saluran kemih, gagal ginjal akut, dehidrasi dan asidosis metabolik.
2.6. Prognosis
Tetanus neonatorum mempunyai angka kematian 66%, pada usia 10-19 tahun, angka kematiannya antara 10-20% sedangkan penderita dengan usia > 50 tahun angka kematiannya mencapai 70%. Penderita dengan undernutrisi mempunyai prognosis 2 kali lebih jelek dari yang mempunyai gizi baik. Tetanus lokal mempunyai prognosis yang lebih baik dari tetanus umum.

2.7. Infeksinosomial
Salah satu kuman anaerob yang sangat berbahaya adalah Clostridium tetani. Kuman ini berbentuk spora bila diluar tubuh manusia dan didalam tubuh akan mengeluarkan tetanospasmin suatu toksin neurotropik yang menyebabkan kejang otot yang merupakan manifestasi klinik untuk diagnosis tetanus neonatorum. Tempat masuknya kuman ini biasanya dari tali pusat oleh karena alat pemotong tali pusat yang tidak steril atau cara merawat tali pusat yang tidak mengindahkan tindakan aseptic dan antiseptik. Misalnya tali pusat dibungkus dengan bubuk atau daun-daun tertentu atau dibiarkan saja terbuka sehingga kontaminasi dengan Clostridum mudah terjadi.
2.8. Infeksi
Tetanus merupakan salah satu  infeksi yang berbahaya karena mempengaruhi sistem urat saraf dan otot. Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku, pecahan kaca atau kaleng, luka yang kotor, dan pada bayi dapat melalui tali pusat. Pada bayi yang baru lahir, kuman ini dapat masuk melalui luka iris tali pusat yang tidak dipotong dengan pisau steril.
Tetanus pada bayi yang baru lahir disebut tetanus neonatorum dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada bayi. Tetanus atau disebut kancing gigi dapat masuk ke tubuh baik melalui luka yang dalam maupun luka yang dangkal. Bahkan bisa dari luka kecil atau tusukan.
2.9. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis dan riwayat imunisasi:
·         Adanya riwayat luka yang terkontaminasi, namun 20% dapat tanpa riwayat luka.  
·         Riwayat tidak diimunisasi atau imunisasi tidak lengkap
·         Trismus, disfagia, rhisus sardonikus, kekakuan pada leher, punggung, dan
      otot perut (opisthotonus), rasa sakit serta kecemasan.
·         Pada tetanus neonatorum keluhan awal berupa tidak bisa menetek
·         Kejang umum episodik dicetusklan dengan rangsang minimal maupun spontan dimana kesadaran tetap baik.

Temuan laboratorium :
- Lekositosis ringan
- Trombosit sedikit meningkat
- Glukosa dan kalsium darah normal
- Cairan serebrospinal normal tetapi tekanan dapat meningkat
- Enzim otot serum mungkin meningkat
- EKG dan EEG biasanya normal
- Kultur anaerob dan pemeriksaan mikroskopis nanah yang diambil dari
  lukadapat membantu, tetapi Clostridium tetani sulit tumbuh dan batang gram
  positif berbentuk tongkat penabuh drum seringnya tidak ditemukan.
- Kreatinin fosfokinase dapat meningkat karena aktivitas kejang (> 3U/ml)
2.10. Interaksi dengan Lingkungan
Berbagai jenis hewan membawa bakteri ini di dalam ususnya tanpa menderita sakit. Penelitian lama menggambarkan bahwa bakteri ini dapat ditemukan pada 15 persen dari tinja 53 kuda, 19 persen dari 21 sapi, 26 persen dari 23 domba, 46 persen dari 37 anjing, 37 persen dari 141 tikus, dan 18 persen dari 34 unggas. Angka ini menggambarkan cukup banyak hewan bertindak sebagai pembawa bakteri ini, sehingga potensi untuk menularkan penyakit cukup besar.
Untuk berkembang biak, bakteri ini memerlukan kondisi anaerob (tanpa oksigen). Oleh karena itu, luka kecil namun cukup dalam, misalnya akibat tusukan paku tercemar bakteri penyebab tetanus, sangat berpotensi menimbulkan penyakit. Di tempat luka, spora bakteri berubah menjadi bentuk vegetatif dan mulai memproduksi racun. Bentuk vegetatif Cl tetani dalam tubuh hewan dan manusia relatif mudah dibunuh dengan antibiotika. Namun, bakteri ini diketahui mampu memproduksi racun eksotoksin yang mempunyai daya rusak lebih hebat dari bakterinya sendiri.
2.11. Interaksi dengan Obat
Bila sudah ada gejala ringan tetanus, maka sumber luka (infeksi) harus segera diketahui.Kemudian, kadang dokter membuka luka baru dengan tujuan ada udara masuk, sehingga kuman mati karena mendapat oksigen. Setelah itu luka dibersihkan dengan antiseptik atau H2O2 dan antibiotik (penisilin).

Untuk membunuh toksin tetanus, biasanya pasien diberi suntikan ATS (antitetanus serum). Sedangkan untuk mengatasi kejangnya diberi obat penenang (barbiturat atau valium). Jika keadaan pasien cukup gawat, misalnya otot-otot yang berhubungan dengan pernafasan (otot dada) kaku, maka pasien perlu diberi alat respirator.

Perawatan tetanus perlu sedikit ‘spesial’ karena pasien bersifat hipersensitif terhadap rangsang. Ini disebabkan karena toksin yang menempel di otot memblok sistem neoromoskular sehingga otot mudah terangsang. Kena rangsang sedikit saja, mereka bisa kejang-kejang yang sifatnya amat melelahkan. Karena itu kebanyakan pasien tetanus dirawat di ruang ICU dan jika perlu dibius umum.

Biasanya kamar perawatan pasien tetanus diletakkan di ujung atau di tempat yang relatif sepi. Bahkan dulu pasien dirawat di tempat yang gelap, agar lebih tenang dan menghindari rangsang. Seringkali pasien tetanus membutuhkan waktu yang relatif lama untuk penyembuhannya (2-3 bulan).

2.12. Penatalaksanaan
1. Umum
a. Diagnosis segera
    memungkin terapi sehingga merupakan hal yang sangat penting.
    Diagnosa yang tepat sangat bergantung dari pengetahuan dan
    pengalaman dari pemeriksa.
b. Anamnesa luka
c. Gambaran klinis
     Uji spatula merupakan uji sederhana yang cukup baik. Spatula
     digunakan untuk menyentuh bagian belakang dinding faring. Uji positif  
     bila terjadi reflek berupa kontraksi otot maseter, sedangkan reflek  
     berupa muntah merupakan uji negatif untuk tetanus.
2.      Spesifik
           Belum ditemukan obat yang secara spesifik dapat melawan toksin yang
telah berikatan dengan jaringan syaraf dan menyebabkan sakit, yang ada hanyalah cradikasi kuman dari luka dan menetralkan toksin di dalam sirkulasi.
·         Netralisasi toksin yang bersirkulasi
Human tetanus immunoglubin (HTlg) yang merupakan anti toksin dengan dosis yang masih di perdebatkan, namun dosis 500 unit direkomendasikan. ATS masih di gunakan berbagai negara berkembang termasuk Indonesia dengan dosis 20.000 unit IM/24 jam selama 5 hari.
·         Eradikasi kuman
Dilakukan dengan antibiotik dan pembersihan (Debridement).
Antibiotik yang sangat diperlukan adalah Penisilin dan metronidazole.
3.        Simptomatis
           Penatalaksanaan simtomatis terdiri dari pengendalian spasme dan disfungsi otonom.
·         Pengendalian spasme dengan sedasi yaitu diazepam dengan dosis 15-100mg/jam. Midazolam sebagai pengganti diazepam, dan procopol yang diberikan dengan dosis 3,5-4,5 mg/kg/BB. Obat pelumpuh otot juga di perlukan yaitu pankoronium, vekuranium, atrakurium.
·         Pengendalian disfungsi otonom, dengan morpin, klanidin, magnesium untuk menekan pelepasan katekolamin. Terapi suportif di perlukan untuk pasien yang di berikan sedasi berat, pelumpuh otot, dan ventilasi mekanik. Terapi suportif tersebut adalah dengan fisioterapi ekstremitas, pemeliharaan kulit, profilaksis trombosis, dan nutrisi.





BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
1.      Tetanus adalah penyakit yang mengenai sistem saraf yang disebabkan oleh tetanospasmin yaitu neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.
2.      Bentuk vegetasi kuman ini mampu dimusnahkan dengan panas dan desinfektan, tidak dapat hidup dengan adanya oksigen. Kuman ini mampu bertahan pada suhu 121 derajat celcius selama 10-15 menit serta resisten terhadap alkohol atau zat kimia lain. Spora ini terdapat di tanah, kotoran hewan, dan manusia yang menghasilkan 2 jenis eksotosin yaitu tetanolisin dan tetanospamin.
3.      Masa inkubasi tetanus berpariasi antara 2-60 hari. Masa inkubasi yang panjang biasanya mempunyai prognosis baik di bandingkan masa inkubasi yang pendek.
4.      Komplikasi tetanus yang sering terjadi adalah pneumonia, bronkopneumonia dan sepsis.
5.      Untuk membunuh toksin tetanus, biasanya pasien diberi suntikan ATS (antitetanus serum). Sedangkan untuk mengatasi kejangnya diberi obat penenang (barbiturat atau valium). Jika keadaan pasien cukup gawat, misalnya otot-otot yang berhubungan dengan pernafasan (otot dada) kaku, maka pasien perlu diberi alat respirator.
3.2. Saran
1.      Pemerintah perlu melakukan sosialisasi yang lebih gencar kepada masyarakat agar masyarakat lebih mengetahui dan mengenal bahaya penyakit tetanus.
2.      Perlu adanya vaksinasi sejak dini sebagai upaya pencegahan terhadap ke-4 penyakit ini.





Sumber : blog teman2 dan buku patologi juga tentunya :)


s







                                   








           


     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar